al-hikam

ilustrasi NU online

Al-Hikam Pasal 3: Himmah dan Qadar

 

سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

“Kekuatan himmah (kemauan) tidak akan mampu mengoyak tembok qadar Allah SWT.”

sebelum mensyarah-kan pasal ini, maka tinjau dulu syarah pasal 2 yang masih ada kaitannya dengan pasal 3

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pasal 2

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ.
وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi.”

Dalam pasal ini, Ibnu Atha’illah menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi, yang harus dipahami terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: tajrid, asbab, syahwat dan himmah.

Tajrid secara bahasa memiliki arti: penanggalan, pelepasan, atau pemurnian. Secara maknawi adalah penanggalan aspek-aspek dunia dari jiwa (nafs), atau secara singkat bisa dikatakan sebagai pemurnian jiwa.

Asbab secara bahasa memiliki arti: sebab-sebab atau sebab-akibat. Secara maknawi adalah status jiwa (nafs) yang sedang Allah tempatkan dalam dunia sebab akibat. Semisal Iskandar Zulkarnain yang Allah tempatkan sebagai raja di dunia, mengurusi dunia sebab-akibat.

Syahwah (atau syahwat) secara bahasa memiliki arti: tatapan yang kuat, atau keinginan. Secara maknawi merupakan keinginan kepada bentuk-bentuk material dan duniawi, seperti harta, makanan dan lawan jenis. Berbeda dari syahwat, hawa-nafsu (disingkat “nafsu”) adalah keinginan kepada bentuk-bentuk non-material, seperti ego, kesombongan, dan harga diri.

Himmah merupakan lawan kata dari syahwat, yang juga memiliki arti keinginan. Namun bila syahwat merupakan keinginan yang rendah, maka himmah adalah keinginan yang tinggi, keinginan menuju Allah.

Adakalanya Allah menempatkan seseorang dalam dunia asbab dalam kurun tertentu—misalnya, untuk mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memimpin negara. Bila seseorang sedang Allah tempatkan dalam kondisi asbab itu, namun dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar. Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam tajrid, namun dia justru menginginkan asbab, maka itu merupakan sebuah kejatuhan dari keinginan yang tinggi.

Inilah pentingnya untuk berserah diri dalam bersuluk, agar mengetahui kapan seseorang harus tajrid dan kapan seseorang harus terjun dalam dunia asbab. Semua kehendak seorang salik haruslah bekesesuaian dengan Kehendak Allah

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

“Kekuatan himmah-himmah tidak akan mampu mengoyak tirai qadar-qadar Allah SWT.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas dalam himmah adalah sebuah tarikan ke atas, keinginan menuju Allah, merupakan lawan kata dari syahwat. Adapun pengertian sawaabiqu (dari akar kata sabaqa) bermakna kekuatan atau perlombaan—satu akar kata dengan istilah musabaqah.

Pengertiannya adalah bahwa sekalipun seseorang memiliki himmah yang sangat kuat, namun pencapaian dalam bersuluk itu sudah ditentukan kadarnya, porsinya, dan waktunya. Segala sesuatu sudah ditentukan takdirnya. Bersuluk itu pada intinya adalah berserah diri kepada Allah; pencapaian dalam jalan suluk tidak dapat dipercepat maupun diperlambat.

*Syarah dalam kitab Al-hikam karya Kh. Sholeh darat Semarang

Jika engkau sudah mencapai maqam tajrid dan suatu hari mengalami kesulitan dalam rejeki, lalu seton menggodamu dan berbisik dalam hatimu, “jika engkau mau berusaha maka engkau tidak akan seperti ini”, jika hal itu benar terjadi maka jangan hiraukan bisikan tersebut dan perhatikan perkataan syekh ibnu Athaillah

سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

“Mengebunya semangat itu tidak dapat menembus benteng takdir”

Angan-anganmu yg sudah ada itu tidak bisa mengalahkan ketentuan takdir Allah. Sebagaimana Halnya engkau berangan-angan, “Jika aku berusaha atau bekerja maka pasti mendapatkan keuntungan dan rezekiku akan tercukupi” Angan-angan seperti ini tidak akan bisa mengalahkan Qadla’ dan Qadar Allah, yg sudah ditetapkan sejak zaman Azali sama sekali tidak! Oleh karena itu jangan memperbanyak angan-angan dan jangan terlalu hanyut dalam angan-angan dalam urusan rezeki, Sebab Allah telah menetapkan Rezekimu, bahkan sebelum kamu Ada.

*Syarah Oleh : KH. A. Wafi Maimoen Putra Kh. Maimun Zubair Sarang Rembang
ditulis oleh kang kanthongumur

Berusahalah dan Bekerjalah, untuk menghasilkan apa yang kamu mau. Akan tetapi ketahuilah, bahwa usahamu dan jerih payahmu walaupun sudah semaksimal mungkin tidak akan berhasil kalau dia bertentangan dengan hukum dan qadarnya Allah.

Ketika ada seseorang yang bekerja untuk mendapatkan rizqi, namun melalui jalan yang tidak halal, maka dia harus menjauhi pekerjaannya itu dan berpegang kepada yang dikatakan Syekh pada hikmah ini.

Bila setan membisikinya, “Ini adalah pekerjaan yang menghasilkan rizkimu. Kalau engkau meninggalkannya maka tidak akan ada gantinya”. Maka katakan pada setan itu, “Dari mana engkau tahu bahwasanya pekerjaanku ini adalah sumber rizkiku dan sebab yang hakiki untuk kelangsungan hidupku? Saya tidak akan terjerumus dalam kesalahan ini karena saya selalu berpegangan pada firman Allah:

ان الله هو الرزاق ذو القوة المتين

“Sesungguhnya Allah sajalah yang memberikan rizki, yang mempunyai kekuatan yang kokoh“
Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam mengatakan, “Sungguh kalian dikumpulkan ciptaannya di perut ibumu 40 hari berupa mani, lalu berupa darah 40 hari, lalu berupa daging 40 hari, lalu dikirimlah malaikat untuk meniup ruh, dan diperintahkan 4 perkara, mencatat rizkynya, ajalnya, amalnya dan celaka atau selamatnya”.

Lalu katakan juga pada setan tersebut, “Kalau Allah SWT sudah mencatatku sebagai orang kaya maka harta akan datang kepadaku dengan sendirinya. Kalau Allah SWT mencatatku sebagai orang miskin maka hartaku akan sedikit walaupun usahaku sangat banyak”.

Kalau begitu Kenapa orang harus bekerja? Jawabannya adalah, bekerja adalah tugas dari Allah Ta’ala, kita bekerja karena perintah-Nya, dan apa yang kita hasilkan dari pekerjaan kita adalah dari-Nya bukan dari hasil usaha pekerjaan kita.

Wallahu A’lam Bisshowab.

semoga bermanfaat.

Iklan