tasawufILMU TASHAWWUF BUKAN BID’AH
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Ada sebagian kecil umat Islam yang merasa benar sendiri dalam beragama dan punya hobi memaksakan kehendaknya menuding bahwa ajaran tashawwuf yang diajarkan oleh para ulama itu bid’ah, yakni mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama tanpa ada contohnya dari Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama. Tudingan keji bahwa tashawwuf itu bid’ah tidaklah benar dan jauh panggang dari api, karena sebenarnya tashawwuf itu diperoleh dari sejarah Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama dan dari para sahabatnya yang mulia.

Perilaku ahli tashawwuf terkemudian pada dasarnya meneladani perilaku para sahabat Nabi dan generasi sesudah mereka (tabi’in) meskipun mereka tidak menamakan diri mereka sebagai kaum sufi (mutashawwifin). Mereka menjalani hidup dengan penuh keikhlasan karena Tuhan bukan karena diri sendiri, menghiasi diri dengan sifat zuhud, selalu menjaga ibadah, dengan sepenuh hati dan jiwa menghadap Allah dalam keseluruhan waktunya. Mereka tidak mencukupkan diri hanya dengan berikrar dalam akidah keimanan dan menunaikan rukun-rukun Islam belaka, melainkan menyertainya dengan upaya untuk mencicipi kelezatan dengan rasa hatinya, menambahnya dengan apa saja yang dianjurkan oleh Rasulullah berupa ibadah-ibadah sunnah, dan menjauhkan diri dari apa saja yang makruh lebih-lebih lagi dari apa saja yang diharamkan, sehingga mata batin mereka terang benderang dan hati mereka pun menjadi sumber kebijaksanaan.

Demikian pula yang dilakukan oleh generasi berikutnya, tabi’ al-tabi’in. Tiga generasi terbaik telah mengamalkan dan menginspirasi lahirnya ajaran tashawwuf yang tiada lain adalah ajaran Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama tentang al-ihsan yang menjadi salah satu dari tiga rukun agama selain dari al-Islam dan al-Iman. Al-Islam adalah ketaatan dan ibadah, al-Iman adalah cahaya kebenaran dan aqidah, sedangkan al-Ihsan adalah maqam muraqabah dan musyahadah.

Ilmu tashawwuf oleh sebagian ulama disebut ilmu batin yaitu ilmu yang berfungsi untuk membersihkan hati. Dengan ilmu ini diketahui tata cara untuk membersihkan hati dari segala macam cacat cela jiwa manusia dan sifat-sifat buruknya, seperti iri-dengki, suka pujian, riya’, sombong, tamak, kikir, pendendam, pemarah, penghormatan karena kekayaan, meremehkan orang-orang fakir, dan sebagainya, untuk selanjutnya menghiasi diri dengan sifat-sifat kesempurnaan seperti taubat, taqwa, istiqamah, jujur, ikhlas, wara’, tawakkal, ridla, cinta, zikir, dan selalu merasa dalam pengawasan Allah ta’ala (muraqabah). Oleh karena itu, ilmu ini wajib dipelajari oleh setiap individu umat Islam (fardlu ‘ain), karena pada hari kiamat kelak yang paling penting adalah menghadap Allah dengan hati yang suci, sebagaimana firman Allah,

يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم. (الشعراء : ٨٨-٨٩)

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Qs. Al-Syu’ara’: 88-89)

dan sebagaimana sabda Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama,

إن الله لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم (أخرجه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kalian, tidak pula rupa-rupa kalian, tetapi Allah melihat hati kalian dan amal-amal kalian.”
(HR. Muslim)

Iklan