Iklan
Beranda

gusdur; Obrolan Presiden

Tinggalkan komentar


Saking udah bosannya keliling dunia, Gusdur coba cari suasana di pesawat RI-01.Kali ni dia mengundang presiden AS dan perancis terbang bersama Gusdur buat keliling dunia. Boleh dong, Emangnya AS dan perancis aja yang punya pesawat kepresidenan, seperti biasa………

setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama presiden amerika, Clinton mengeluarkan tanganya dan sesaat kemudia ia berkata;”Wah kita sedang berada di atas Newyork!”

Presiden Indonesia( Gusdur ): “lho kok bisa tau sih”

“itu patung Liberty kepegang !” jawab Clinton dengan bangganya,

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangan keluar, “tau gak…kita sedang berada diatas kota Paris !” katanya dengan sombongnya…

Presiden Indonesia( Gusdur ): “Wah… kok bisa juga tau sih”

“itu…..menara Eifel kepegang!” sahut Presiden Perancis tersebut..

karena Disombongin sama  Clinton dan Chirac, giliran Gusdur yang menjulurkan tanganya keluar pesawat…

“Wah ……Kita sedang berada di tanang Abang!!!!!….Teriak Gusdur.

“lho kok bisa tau sih??” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gusdur itu nggak bisa melihat…

“Lah Ini…………….Jam tangan saya ilang.….” jawab gusdur Kalem…

ha…ha,,,ha,,,

 

 

 

Mengenang Almarhum KH.Abdurahman Wahid.

mari sama-sama kirim do’a dan Fatihah untuknya…

Biridhoillah wabisyafa’ati rosulillah saw wabibarokatil Fatihah………..

Iklan

1 Tamparan menjawab 3 Pertanyaan

Tinggalkan komentar


Alkisah dalam negeri inspirasi ada seorang anak yang telah lama menuntut ilmu berkelana ke sebuah negeri satu ke negeri lain.

Suatu hari anak itu pulang ke rumahnya, dengan lagak yang sombong dia melarang orang tuanya memeluk dirinya menyambut kedatangannya, betapa sakit orang tuanya ketika sang anak bertingkah seperti itu, anak yang di tunggu-tunggu sekian lama ternyata berbuat sadis terhadap mereka, sang anak berkata lantang kepada orang tuanya,

” Wahai ayah…. ibu…. aku takkan menerima pelukan kalian dan aku akan keluar dari agama yang kalian ajarkan kepadaku apa bila kalian tak mampu menjawab pertanyaanku.” kata sang anak.

Orang tuanya menjawab, ” Mengapa kau seperti itu anakku ? Mengapa kau berubah setelah pergi dari kami ? Baiklah apa pertanyaa itu wahai anakku ? ”

” Ada 3 pertanyaan yang harus kalian jawab,
1. kalau tuhan itu ada bisakah kalian tunjukkan dimana Tuhan itu ?
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api, mengapa Tuhan memasukkannya ke dalam neraka, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka mempunyai unsur yang sama dengan api. Apakah Tuhan tidak berfikir sejauh itu? alangkah naif Tuhan itu.” tanya sang anak.

Karena merasa tidak mampu menjawab, sang ayah membawa sang anak kepada syekh ayah waktu mencari ilmu dulu.

Setelah sampai pada tempat yang di tuju, sang anak dengan sombongnya kembali menanyakan pertanyaan yang tadi kepada syekh.

” Oh begitu……… hmmmmm…ya ya ya…..” jawab Syekh, datar penuh wibawa.

Seketika itu juga sang syekh menampar anak, ” Plak……..”

Sang anak kaget, ” Mengapa kau menamparku wahai orang, apakah karena kau tak bisa menjawab pertanyaanku lantas kau menamparku…? ” tanya sang anak.

Syekh tersenyum melihat anak marah, ” He…he…he…. tamparanku adalah jawaban dari pertanyaanmu….!!! ” jawab syekh.

” Apa kau bilang…..???? tamparan kau bilang jawaban…??? alangkah bodoh kau ini, percuma aku bertanya hal yang selama ini aku cari.” kata sang anak.

Sang syekh dengan tenang menjawab, ” Kau yang bodoh….!!! tidakkah kau gunakan otakmu untuk berfikir ? ”

Sang anak bingung mendangar ucapan Syekh, ” Maksudmu…….??? ”

” Kau yang bodoh, apakah yang kau rasakan dari tamparanku…? ” tanya syekh.

” Ya jelas sakit, bodoh sekali kau ini ” jawab sang anak kesal.

” Begitukah…? Bisakah kau tunjukkan rasa sakit itu di hadapanku…? tanya syekh.

” Kau bodoh orang, mana ada rasa sakit bisa diwujudkan….? ”

Syekh menjawab tenang,

” Kau yang bodoh, kau menyuruh aku menghadirkan tuhan yang jelas tak mungkin bisa di lakukan semua makhluk di alam semesta ini, sedangkan kau hanya ku suruh menunjukkan rasa sakit saja kau tak mampu, begitupun halnya aku. ” jawab sang syekh.

Sang anak tertunduk mendengar jawaban syekh.

“jawaban yang kedua.” Lanjut syekh,” apakah kau akan mengatahui kalau tadi aku akan menamparmu ? ” tanya syekh.

Dengan sombong sang anak menjawab, ” Mana aku tau kau akan menamparku, kau gila ya….?”

” Itulah takdir, coba kau gunakan otakmu untuk berfikir, takdir adalah sesuatu perkara yang tak tau kapan datangnya, hanya tuhanlah yang tau akan takdir seorang manusia, kita sebagai manusia hanya mampu berharap pada tuhan agar diberi takdir yang baik dengan berdo’a.”

” Yang ketiga, tidakkah kau pikir tanganku ini terbuat dari kulit, tentunya pipimu juga terbuat dari kulit, antara tanganku dan pipimu mempunyai unsur yang sama, yaitu sama-sama kulit, tidakkah kau berfikir syaitan akan lebih menerima sakit dalam api neraka…? sepeti halnya tamparan ku tadi, tentunya syaitan akan lebih dari ini…Sekarang siapa yang bodoh hayo…..?? ” Jawab syekh tenang..

Sang anak diam…. ia menangis dan meminta maaf kapada orang tuanya serta syekh, ia mengakui bahwa diatas orang pintar ternyata ada yang lebih pintar, yaitu Sang Maha Pintar.

MAUIDHOH…..

Subhanallah….. Ternyata sombong adalah penyakit yang sangat menakutkan, orang bisa apa saja kalau dia sombong, dalam hadits qudsi diterangkan bahwa sombong adalah selendang Allah, kita makhluk Nya yang kecil dan lemah, tak sepatutnya bersifat sombong, dan kita diciptakan Allah untuk berfikir, seperti dalam Al-Qur’an di jelaskan, Afalaa yatafakkaruun….? afalaa ta’qiluun…? ada banyak ayat yang seperti itu dalam al qur’an. mari bersama kita ubah sifat kita menjadi lebih baik…

” Bisakah kalian menciptakan sesuatu dari apa-apa yang taidak dari Ku? ” itulah tantangan Allah kepada orang yang bersifat sombong.

Astaghfirillah…..Ighfirlii yaa Allah….. Amiiiin

Bukan KALAM ( Cerita Lucu Akibat Ceroboh dalam beraqidah)

Tinggalkan komentar


Sebut saja Kang Bangkak, ketika dia Thowaf tiba2 dia menangis sesenggukan, kian lama tangisnya pun kian menggetarkan seluru badannya, yaa tangisan yg hebat.

Betapa itu sangat mengusik perhatian Mbah Lalar, alangkah hebat Khauf dn Kekusyuan orang ini. Dalam hati Mbah Lalar timbul berbagai macam pertanyaan, kenapa aku tidak bisa seperti orang ini? alangkah kerasnya hatiku, Istighfar, Doa dn Solawat andalan pun meluncur dari bibirnya namun tak satupun mengakibatkan jatuhnya airmata.

Semakin kagum, ya sangat kagum dg orang yg mudah menangis, meratap dn menyesali dosa dosa, iri dg hal yg demikian adalah wajar, dan bahkan harus di usahakan.

Teringat akan tausiyyah dr siaran radio swasta yg di smpaikan oleh Entah Kyai atau Ustadl siapa, Mbah Lalar semakin tercenung menyesali diri. “Menangislah karena takut Allah, jika tidak bisa menangis karenanya, menangislah karena dosa2mu, jika dosa2mu tidak juga membuat kamu menangis, menangislah karena kamu tidak bisa menangis, karena itu adalah tanda orang yg tertutup hatinya oleh dinding dosa2 dn itu adalah pertanda kecelakaanmu”

Hanya beberapa tetes airmata yg jatuh, ketika Mbah Lalar merenungi Nasihat di atas, tapi lumayan lah. Kembali dia peratikan Kang Bangkak yg tenggelam dalam tangis, dn setelah usai dalam Towafnya, di hampirinya Kang Bangkak yg masih sibuk mengusap air matanya.

Dg penuh rasa kagum dn sekaligus meratap harap, Mbah Lalar membuka kata, Barokallah……. Anda sungguh membikin iri hatiku. Apa yg membuat Mbah Lalar iri? tanya Kang Bangkak. Aku lihat Anda menangis begitu Hebat ketika Thowaf tadi. Apa rahasianya seingga Anda begitu Kusyu; dn mudah melakukan itu? tanya Mba Lalar. Mendengar pertanyaan itu, Kang Bangkak tiba2 menunduk dn menangis kembali. Dg sura gemetar dia menjawab ” Ketika aku Thowaf tadi, aku bayangkan Allah sedang bertengger di atas Ka’bah, itulah yg membuat hatiku tenggelam dalam pengagungan dan harapan akan di kabulkan segala permintaanku”.

Mendengar jawaban itu, Mbah Lalar tidak mampu menimpali perkataannya walaupun sepotong kata saja. Mbah Lalar cuma Mlongo dn termangu di buatnya. segera setelah beberapa saat terucaplah Istighfar yg terdorong dr dlm hati, persaan takut yg begitu mencekam, membuat Mbah Lalar benar2 menangis.

Setelah larut dalam kecamuk yg merindingkan sekujur badannya, perlahan dalam desah nafas yg kian teratur meluncur dalam putaran tasbih yg entah sudah berapa kali terulang “LAISA KAMISTLIHI SYAIUN”……………………………………………….

Tak Tergantung (In Memoriam Belajar Tauhid Waktu di MTs.)

Tinggalkan komentar


Tak Bergantung
G : Oke anak-anak kita mulai lagi sesi diskusi pada pelajaran kali ini. Ada ide atau pertanyaan dari sesi diskusi sebelumnya? Yang bisa kasih pertanyaan ada hadiah menarik… Tentunya pertanyaan yang layak saja….
M : Saya pak. Apa manfaat bagi kita mengetahui tentang tuhan?
M : Saya juga pak. Kenapa tuhan kok satu?
M : Kalau saya… Ehm… Apa tujuan tuhan menciptakan kita?
M : Mungkin kita lanjutkan yang kemarin saja pak mengenai wajibul wujud atau causa prima…
G : Cukup-cukup, banyak sekali idenya, dan bagus semua. Sayang saya cuma bawa satu hadiah. Dibagi-bagi aja ya…
M : ya paaaaak.
G : Supaya runtut dengan pembahasan sebelumnya, mungkin kita lanjutkan dengan wajibul wujud aja ya, sesuai dengan saran dari teman kalian. Nah untuk mempermudah diskusi ini, saya akan memancing dengan pertanyaan ini, coba kalian pikirkan dengan baik. Kemudian yang ada ide silahkan dilontarkan. Tak usah malu. Dan bagi yang lain saya minta diperhatikan ide teman kalian, gak boleh ada cemoohan, ancaman atau kafir-kafiran. Disini mimbar bebas, setuju!
M : SETUJUUUUU……
G : Pertanyaannya adalah : apakah wajibul wujud itu butuh sesuatu?
M : TIDAAAAAK
G : Kenapa kok tidak butuh
M : Ya emang begitu…
M : Kalau butuh sesuatu berarti dia bukan wajibul wujud
M : huuuu…….
G : apakah wajibul wujud butuh ruang? Atau menempati ruang tertentu
M : yap
M : tidak
M : ???
M : pasti menempati area tertentu, karena kan gak mungkin ada sesuatu yang tidak berada di suatu area tertentu
M : setahu saya Dia menempati yang namanya Arsy
M : betuull (tepuk tangan)
G : Wah disini kayaknya ada yang jago tafsir ya?
M : hi hi hi hi
M : (malu)
G : Jadi apakah tuhan butuh tempat? jadi duluan mana tuhan atau tempat?
M : tuhan
M : tempat
M : arsy
M : ???
G : gimana nih? Mana yang betul menurut kalian?
M : Gak mungkin ada sesuatu yang tidak menempati ruang atau tempat tertentu. Yang menurut saya ruang itu dinamakan arsy…
M : Jadi menurut kamu ada arsy dulu baru tuhan?
M : ya (dengan mantap)
M : jadi siapa yang menciptakan arsy?
M : ya tuhan donk… (agak bingung)
M : jadi dulu mana arsy sama tuhan ??
M : ???
M : Gimana pak? Mungkin bisa dijelaskan pak?
M : iya pak, pusing….. kayak telor ama ayam…
G : Dipikir dulu, barangkali ada diantara kalian yang menemukan petunjuk…
M : (hening, saling kasak-kusuk)
G : (setelah agak lama) Yang membuat kalian bingung adalah karena kalian semua menyamakan wajibul wujud (tuhan) dengan makhluk dan ciptaan. Padahal dari diskusi sebelumnya sudah diperoleh kesimpulan bahwa penyebab segala sesuatu dan yang pertama dan utama adalah wajibul wujud, dan tidak ada sebab atau hal lain yang mendahuluinya. Jika ada sebab atau hal lain yang mendahuluinya, maka sebab atau hal tersebut pastilah wajibul wujud. Yang harus ada tanpa sebab sebelumnya. Sesuai dengan hasil diskusi kita sebelumya. Nah yang membuat kalian bingung adalah menyamakan wajibul wujud dengan fenomena yang kalian lihat saat ini. Jadi kalian mestinya bisa memisahkan antara wajibul wujud dan makhluk atau mumkinul wujud (istilah dalam bahasa arab). Mungkin bagi kalian agak susah membayangkan ada sesuatu zat yang tidak membutuhkan tempat atau ruang. Hal ini karena nalar dan otak kita selalu melihat segala sesuatu dan terbiasa dengan penglihatan tersebut, dan seakan-akan menganggap itu semua sebagai kebenaran.
Supaya tidak bingung ringkasnya begini jangan menyamakan wajibul wujud dengan mumkinul wujud yang butuh akan ruang, oke….
M : Bingung pak
M : ya pak…
M : (suara pelan) dogma lagi nih…
G : Jadi sebetulnya nalar kita sudah meyakini adanya wajibul wujud yang tak bergantung pada sebab lain (termasuk ruang). Hal ini sesuai dengan hasil diskusi kita sebelumnya… setuju…
M : betul pak… (ada yg garuk kepala)
G : Cuman masalahnya nalar kita sudah terbiasa melihat dan mengindera segala sesuatu yang menempati ruang tertentu. Misalnya mobil, digarasi, kita di kelas, ada pohon di hutan, di bumi, di antariksa, galaksi, dst. Jadi nalar kita disatu sisi menerima dalil wajibul wujud, disisi lain bingung membayangkan sesuatu yg tak menempati ruang.
M : BETUULLLL
M : Ya pak, lalu bagiamana penjelasannya yang mudah.
G : Itulah kelemahan kita atau otak kita
G : Kita terbiasa melihat segala sesuatu dan memastikan hal itu sebagai kebenaran. Sama seperti dalil sebab akibat kemarin, kita kayaknya tidak bisa membayangkan ada sesuatu zat yang ada tanpa disebabkan sesuatu. Padahal kalau hal itu tak ada maka kita saat ini tak ada.
M : Pak bisa dikasih contoh pak.
G : Begini (sambil memikir sebentar). Kalian pernah praktikum fisika mengenai pensil dimasukkan gelas bukan ??
M : ya pak (ada yang diam karena waktu itu tidak masuk)
G : Nah itu menunjukkan adanya tipuan penglihatan kita, kita melihat pensilnya menjadi bengkok sewaktu dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air. Padahal akal kita meyakini bahwa pensil itu tidak bengkok. Hanya tipuan penglihatan saja. Berbahagialah bahwa kalian dibekali akan dan nalar, jadi tidak gampang tertipu…
M : Ha ha ha ha
G : Begitu juga dengan masalah tadi, mengenai tuhan yang tidak menempati ruang. Indera kita terbiasa melihat segala sesuatu menempati ruang. Tapi alhamdulillah kita masih dibekali akal yang mampu menganalisa, bahwa wajibul wujud tidak mungkin menempati ruang.
M : ya ya ya
M : begitu ya pak…
M : Bapak memang pinter deh, tak salah jadi guru….
M : ha ha ha ha….
M : tanya pak, jadi bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa tuhan menempati arsy?
G : ada yang mau ngebahas ini?
M : pak mungkin bisa disebutkan itu dari surat mana ayat berapa?
M : iyah pak, dan kalau mungkin artinya dan tafsirnya sekalian
G : Begini saja deh, karena untuk membahas itu kayaknya butuh waktu lama (sambil melihat jam). Mungkin bisa dibahas di sesi diskusi yang lain, gimana?
M : ya pak….
G : Nah dari pembahasan kita pagi ini bisa disimpulkan bahwa wajibul wujud (tuhan) tidak membutuhkan ruang. Sepakat…
M : sepakat, setuju, ya….
G : Dengan cara yang sama kalian bisa menguraikan untuk waktu, gerak, dll. Jadi diharapkan nantinya kalian akan memahami bahwa wajibul wujud pun tidak terikat oleh waktu, gerak, dll.
G : Mungkin di sesi yang lain kita bisa sedikit bahas ini, jika masih ada sedikit ganjalan.
G : sekarang sudah waktunya istirahat, kalian boleh istirahat sekarang.
M : Ya pak, (meninggalkan kelas, ada yang ke toilet, ke kantin, dan ada yg tetap aja di kelas, sambil ngobrol alias diskusi offline).

%d blogger menyukai ini: