Iklan
Beranda

semua keindahan akan terukir

Tinggalkan komentar


belajar suksesbismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dirahmati Allah. Benar memang kata orang, jikalau kita ingin terlihat lebih baik maka bercerminlah. Karena dengan cermin kita bisa mengetahui kotoran atau noda di wajah kita, sekecil apapun itu, bahkan pada bagian-bagian yang tak bisa dijangkau oleh pandangan mata. Tapi sayang, tidak semua orang bisa bercermin, lebih tepatnya tidak mengetahui fungsi cermin yang sebenarnya. Apalagi cermin kehidupan kita, lah kenapa bisa begitu ?

kondisi semacam itu juga merasuki para pencari ilmu, seringkali para pencari ilmu enggan bercermin akan kegagalan dalam belajar, termasuk saya sendiri.  seringkali dalam pelajaran tertentu, sampai berulang kali dibaca dipahami berkali-kali baru bisa, apakah engkau mengalami demikian. ? bisa jadi.

kesibukan sering kali dijadikan alasan gagalnya belajar, kesibukan kerja, kesibukan bermain, kesibukan berinteraksi dengan lingkungan sosial, maupun kesibukan-kesibukan lainnya yang disinyalir dijadikan alasan menjauhkan dari yang namanya “belajar”. sungguh benar kata guru-guru, jika ingin berhasil dalam menuntut ilmu, sungguh-sungguhlah belajar karena hanya orang rajin saja yang berpulang lebih besar meraih kesuksesan, bukan begitu kawan ?

namun ada satu faktor penting yang juga berperan penting dalam kesuksesan menuntut ilmu ? apa itu ? adakah yang tahu..?

sebuah kisah menarik semoga menginspirasimu….

seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.

“Habib, saya mau pulang saja.”

“Lho, kenapa?” tanya beliau.

“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.”

“Jangan dulu. Sabar.”

“Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”

baca kisah cahaya hati selengkapnya…

Iklan

Adabul ‘Alim wal Muta’allim آداب العالم والمتعلّم

Tinggalkan komentar


Bismillahirrahmanirrahim

sahabatku yang dirahmati Allah, kamu punya guru, saya yakin kamu punya guru, seseorang yang menularkan ilmunya kepadamu, begitu banyak ilmu yang kita dapat dari para guru-guru kita, namun sedikit sekali yang kita dapat mengamalkannya, kenapa kita tidak memperoleh keberkahan ilmu dari para guru-guru kita? karena kita tidak memulialkannya…

Rasulullah saw: “Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.”  (Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik). 
Adab memang sangatlah penting kedudukannya dalam ajaran Islam. Imam Syafii, imam mazhab yang banyak menjadi panutan kaum Muslim di Indonesia,  pernah ditanya, bagaimana upayanya dalam meraih adab? Sang Imam menjawab, bahwa ia selalu mengejar adab laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”
mari kita belajar, agar beradab..
آداب العالم والمتعلّم
ADAB-ADAB GURU DAN MURID



MUQADDIMAH – TENTANG ADAB

1 – Ibnul Mubarak berkata, “Kita lebih butuh kepada sedikit saja dari adab dibanding kepada ilmu yang banyak.”
2 – Beliau juga berkata, “Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari sunnah-sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari fardhu-fardhu. Dan, barangsiapa yang meremehkan fardhu-fardhu, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari ma’rifat (mengenal Allah).”
3 – Syekh Abu ‘Ali ad-Daqqaq berkata, “Meninggalkan adab itu mengharuskan pengusiran. Barangsiapa yang beradab buruk diatas permadani (di ruang tamu), ia akan dikembalikan ke pintu. Barangsiapa yang beradab buruk di depan pintu, maka ia dikembalikan ke atas hewan tunggangannya.”
4 – Sebagian ulama’ berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh bila engkau mempelajari satu bab adab itu lebih aku cintai dibanding bila engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.”
5 – Imam asy-Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Wahai Muhammad (yakni, salah seorang murid beliau), jadikanlah ilmumu sebagai garam dan jadikanlah adabmu sebagai tepung.”

seberapa pentingkah nilai A ?

5 Komentar


bismillahirahmanirahim

sahabatku yang dimuliakan Allah. senin tanggal 23 Juli hari yang ditunggu-tunggu khususnya bagi kami setelah berjuang belajar. emang ada yang istimewa apa di hari ini? pada hari itu saya yakin ada orang yang akan sangat bahagia, ada yang sedih, ada yang biasa saja dan ada juga yang putus asa. menarik bukan hari itu?

hari itu adalah hari pengambilan IPK (index prestasi komulatif ) jika sudah bicara ipk maka Virus H2C harap-harap cemas sering kali membayangi. jika kamu tanya apa saya cemas juga?, saya akan jawab, Ya tapi sedkit selebihnya saya pasrahkan kepada Allah. jika kamu merasa cemas dan gelisah, ambillah wudhu terus sholat dua rakaat lalu baca quran insyaAllah ketenangan akan mudah kamu dapatkan?mau kan melakukan itu? hush. jangan bilang siapa-siapa yach, ini rahasia saya.

jika saya sudah melakukan sebuah proses yang baik insyaAllah hasilnya akan baik, bener gak sobat ?

teringat tulisan saya yang ini coba dibaca lagi Quality Built in Proses..

dan ternyata bener temen satu angkatan yang sudah ambil IPK ngirim sesuatu di Forum komunikasi kami. “nilai ip semester ini kacau” begitu dia update statusnya.. pertanda lagi galau dan putus asa stelah membuka amplop coklat kyaknya tuch, hehe. terus beberapa teman datang dan ikut berkomentar di statusnya itu tuk memberi semangat dan juga ada yang mengejeknya…. bercanda maksudnya.

baca selengkapnya….

Kisah seorang Sahabat

Tinggalkan komentar


“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Q.S Al Insyiraah: 5-6)

Sebagai siswa disalah satu Pendidikan Kedinasan di Negeri ini, adalah kewajiban untuk menyelesaikan belajar dengan hasil yang memuaskan. Jika kukenang kisah perjalananku masuk di Perguruan Tinggi Kedinasan ini jadi teringat dimana begitu banyak tantangan,hambatan,ujian mental yang dilalui.

Kisah ini dimulai setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Tingkat Atas di Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Waktu itu tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri karena kemampuan ekonomi terbatas, lalu mendaftar di salah satu Pendidikan Militer yang tentunya ada Ikatan dinas, selama pendidikan tidak dikenakan biaya, sehingga tertarik untuk mengikuti tes masuk, kebetulan pula persyaratan administrasi telah sesuai. Tahapan test berikutnya dijalani dan mengalami kegagalan.Tentunya agak kecewa tapi memang mungkin bukan jalan hidupku.

baca selengkapnya..

belajar untuk belajar

2 Komentar


Hakikatnya hidup ini merupakan rangkaian proses belajar dan menempa diri agar menjadi lebih baik senantiasa. Sungguh, begitu banyak hal dapat disarikan dari perjalanan detik demi detik kehidupan kita. Hal-hal yang kita rasakan, kita lihat, kita dengar, kita keluarkan melalui lisan, semuanya bisa menjadi sesuatu yang sarat makna dan dapat memperkaya khazanah pengalaman kita untuk selanjutnya dijadikan modal bagi proses perbaikan diri, jika kita mau tentunya.

Little things mean a lot, ya, banyak hal kecil yang sesungguhnya memiliki makna yang begitu besar, jika saja kita mau sedikit lebih memperhatikan, sedikit melihat lebih ke dalam, dan sedikit saja berpikir. Ketika kita hanya memandang sesuatu dengan cara biasa, semuanya akan tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, seakan memang demikianlah seharusnya.

baca selengkapnya..

%d blogger menyukai ini: