Iklan
Beranda

Ilmu Tashawuf Bukan Bid’ah

Tinggalkan komentar


tasawufILMU TASHAWWUF BUKAN BID’AH
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Ada sebagian kecil umat Islam yang merasa benar sendiri dalam beragama dan punya hobi memaksakan kehendaknya menuding bahwa ajaran tashawwuf yang diajarkan oleh para ulama itu bid’ah, yakni mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama tanpa ada contohnya dari Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama. Tudingan keji bahwa tashawwuf itu bid’ah tidaklah benar dan jauh panggang dari api, karena sebenarnya tashawwuf itu diperoleh dari sejarah Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama dan dari para sahabatnya yang mulia.

Perilaku ahli tashawwuf terkemudian pada dasarnya meneladani perilaku para sahabat Nabi dan generasi sesudah mereka (tabi’in) meskipun mereka tidak menamakan diri mereka sebagai kaum sufi (mutashawwifin). Mereka menjalani hidup dengan penuh keikhlasan karena Tuhan bukan karena diri sendiri, menghiasi diri dengan sifat zuhud, selalu menjaga ibadah, dengan sepenuh hati dan jiwa menghadap Allah dalam keseluruhan waktunya. Mereka tidak mencukupkan diri hanya dengan berikrar dalam akidah keimanan dan menunaikan rukun-rukun Islam belaka, melainkan menyertainya dengan upaya untuk mencicipi kelezatan dengan rasa hatinya, menambahnya dengan apa saja yang dianjurkan oleh Rasulullah berupa ibadah-ibadah sunnah, dan menjauhkan diri dari apa saja yang makruh lebih-lebih lagi dari apa saja yang diharamkan, sehingga mata batin mereka terang benderang dan hati mereka pun menjadi sumber kebijaksanaan.

baca selengkapnya…

Iklan

Ijazah sholawat Nariyah

1 Komentar


Dalam rangka Memperingati hari santri nasional setiap tanggal 22 oktober, tahun ini PBNU menginstruksikan untuk pembacaan 1 milyar sholawat nariyah untuk kebaikan bangsa indonesia, semoga indonesia aman, tentram, sentosa, sejahtera dan berkemajuan, aman…aman…aman indonesia raya aman,

Dalam kitab Khozinatul Asror (hlm. 179) dijelaskan, “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat (bi idznillah).”

“Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam diyakini sebagai kunci gudang yang mumpuni:. .. Dan imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”

IJAZAH SHALAWAT NARIYAH


Oleh. Kh. Thobary syadzily albantani

Tata Cara Mengamalkan Shalawat Nariyah / Shalawat Munfarijah / Shalawat Kamilah.
I.  Tawassul, yaitu:
بسم الله الرحمن الرحيم
1. الي حضرة النبي المصطفي سيدنا محمد صلي الله عليه و سلم و اله و صحبه و ازواجه و ذريته ، شيئ لله لهم الفاتحة …….

(1. Ilaa hadratin nabiyyil mushthafaa sayyidinaa Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama wa aalihi wa shohbihi wa azwaajihi wa dzurriyyatih, syai’ul lillaahi lahumul faatihah  …….. ).

baca selengkapnya disini….

KH Marzuqi Mustamar : Klarifikasi Amalan Umat

Tinggalkan komentar


kh marzuqi mustamarBismillahirahmanirrahim

Sahabatku yang dirahmati Allah. minggu 20 Maret 2016 kemaren masjid Roudhotul Jannah kita kedatangan ulama kharismatik asal jawa timur yaitu KH MARZUQI MUSTAMAR, Seorang Pakar ASWAJA, Hujjatul NU, Ketua Tanfidziah PCNU malang, Anggota Fatwa MUI Malang, dosen pasca sarjana UIN Malang, Pengasuh Ponpes “Sabilul Rosyad” Gasek, Karang Besuki, Sukun, Malang.

tidak seperti mauidhoh hasanah pada umumnya, Ceramahnya kemaren berbeda, Pak Kyai malah membawa kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Kitab Fiqih Muhammadiah, Tarjih Muhammadiah dan buku penunjang lainnya. pak Kyai hendak mengklarifikasi amalan umat yang sering diributkan masyarakat, terlebih masyarakat awam, tentang amaliyah-amaliyah yang oleh kelompok lain (Salafi wahabi dan sejenisnya) sering mengangapnya sesat, bid’ah dan tidak ada contohnya. dari pengajian kemaren juga diikuti sesi tanya jawab dari jamaah yang hadir pada acara yang mulia itu berikut ini beberapa kesimpulan hasil dari yang telah diuraikan pak Kyai juga hasil menjawab pertanyaan dari jamaah yang hadir waktu, saya paparkan dengan sebenarnya sekaligus penambahan Referensi dari buku-buku yang telah diterbitkan tim Aswaja Center. Adapun beberapa yang dibahas tentang masalah niat, qunut subuh, dzikir dengan suara keras, Sholawat Nariah, Tahlilan dan sebagainya, menghadiahkan fatehah. Semoga pembahasan kesimpulan ini bernilai manfaat untuk semua.

baca selengkapnya disini….

apa sih Bid’ah itu ?

18 Komentar


bismillahirahmanirahim

sahabtku semua yang dirahmati Allah, saat saya mencoba memaparkan kajian diskusi mengenai tahlilan, yasinan dan maulidan langsung saja ada yang bicara itu adalah bid’ah, dengan alasan “Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga para sahabatnya, tidak ada satupun diantara mereka yang mengerjakannya. Demikian pula para tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Dan kalau sekiranya amalan itu baik, tentu mereka akan mendahului kita. kawan, Kerancuan yang terjadi akibat minimnya ilmu dan lemahnya pemahaman itu, semakin diperparah akhir-akhir ini, oleh maraknya fenomena kalangan yang mudah sekali dalam menjatuhkan hukum dan klaim bid’ah atas segala sesuatu, berdasarkan pandangan yang mensimplifikasikan (menyederhanakan) mafhum (pengertian) bid’ah dengan ungkapan global seperti misalnya: bahwa bid’ah adalah setiap hal yang tidak ada pada zaman Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, atau tidak pernah dilakukan oleh beliau. Sehingga segala sesuatu yang baru, tidak ada pada masa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, dan tidak pernah beliau lakukan, langsung dan serta merta dihukumi dan diklaim sebagai bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat itu di Neraka! Padahal masalahnya sebenarnya tidak sesederhana itu. Karena sederhana saja misalnya, seandainya setiap yang baru dan tidak ada pada masa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam itu, serta merta dihukumi sebagai bid’ah yang sesat, tentunya tidak perlu ada ijtihad lagi, dan para ulama mujtahid-pun tidak dibutuhkan lagi!

kawan, bagaimana cara kita memahami bidah…

mari kita mengkaji lebih dalam…?

semoga menambah wawasan kita

sebuah percakapan yang patut engkau simak mengawali pembicaraan mengenai bidah…

Ketika sebagian orang menolak pembagian Bid’ah pada Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah, maka itu berarti mereka menolak dan menyalahkan ulama’besar seperti al-Imam asy-Syafi’i, Al Hafid Ibnu Hajar, al-Imam a-Nawawi dan Salafus-shalih lainnya, seolah-olah Ulama besar itu hanya berpendapat berdasarkan hawa nafsu dan mengesampingkan al-Qur’an dan Hadits. sungguh betapa sombongnya orang yang berkata demikian…

Penah terjadi dialog menarik. Berikut kami kutib dengan tanda “A” untuk wakil mereka dan “B” untuk wakil kami.

baca penjelasan selengkapnya…

%d blogger menyukai ini: