kritikanbismillahirahmnirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. dalam sisi lain mengkritik adalah salah satu cara untuk mengingatkan orang, yang dulunya kurang baik sekarang karena sebuah kritikan dan nasehat menjadi baik, hal semacam ini baik jika kedua belah pihak mau memahami satu sama lain. namun keseringan mengkritik orang lain justru menjadi bumerang bagi kita sendiri

lah kenapa bisa begitu ?

adakah yang mau menjelaskan ?

tanpa kita sadari, seringkali Kita menghakimi karena fokus pada kepentingan diri sendiri. Sebagai contoh, kita seringkali menjadi suka mengkritik ketika kita membandingkan diri kita dengan mereka yang ada di sekitar kita. Kita mencoba menemukan kesalahan dalam diri orang untuk membuktikan bahwa kita lebih pandai, lebih cantik, lebih berbahagia atau lebih sehat. Namun di sana terdapat alasan yang berhubungan dengan ego diri. Kita dengan sederhana ingin merasa lebih baik dengan diri kita sendiri. Kita juga melakukan kritik ketika orang lain gagal melakukan apa yang kita minta, atau melakukan apa yang kita pikir dilakukan dengan tidak benar. Seringkali itu adalah anggota keluarga kita, teman atau rekan kerja yang gagal memenuhi harapan kita. Harapan kita menyebabkan munculnya perilaku penghakiman.

Bahkan frustasi dalam diri kita sendiri dapat menyebabkan munculnya perilaku suka mengkritik. Jika hidup tidak berjalan sesuai dengan hasrat yang kita miliki, kita menyembunyikan frustasi kita dengan menemukan kesalahan pada orang lain.

Menemukan kesalahan dan menjadi seorang pengkritik adalah hal termudah untuk dilakukan. Hal itu kelihatan datang dengan alami dalam kehidupan kita, Ingatlah bahwa amat mudah menjadi seorang yang suka mengkritik. Kesalahan orang lain seringkali amat nyata bagi kita.
bacalah kisah menarik berikut ini : semoga dapat diambil intisarinya..

Pagi itu, sewaktu sarapan. Dari balik jendela kaca Bu Nyai melihat salah seorang santriahnya yang sedang menjemur mukena.

“Abah, lihat deh! Cuciannya kelihatan kurang bersih ya? Sepertinya dia dulu waktu belum dipondokkan mungkin tidak pernah mencuci sendiri di rumah, makanya dia tidak tahu bagaimana cara mencuci pakaian dengan benar.” Bu Nyai mencoba memberi tahu suaminya.

Mbah Yai menoleh sesaat, tetapi beliau hanya diam dan tidak memberi komentar apapun. Sejak hari itu setiap ada santriahnya menjemur mukena ataupun pakaian, selalu saja Bu Nyai memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si santriah dalam mencuci pakaiannya.

baca kisah cahaya hati selengkapnya…

Iklan