maafBismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. siapa manusia yang tak punya kesalahan ? kecuali para wali Allah, para nabi yang Allah jaga hati, tindakan dan ucapannya dari berbuat kesalahan, pertanyaan yang bisa jadi ditanyakan kebanyakan orang karena kita tahu manusia pada hakekatnya adalah tempat salah dan lupa. ,sahabatku, Sebagai manusia biasa, kita tak kan luput dari berbuat salah. Baik yang disengaja atau tidak, disadari atau tidak, kecil maupun besar, semua adalah hal yang manusiawi. Tentu, jika tak segera diluruskan, tak segera diperbaiki, tak segera dilakukan evaluasi, kesalahan kecil bisa jadi membesar, kesalahan besar bisa mendorong terjadinya kerusakan, hingga ujungnya kerusakan membawa kehancuran. betul kan ?

apa yang kita lakukan jika berbuat kesalahan ? sederhana, ya mengakui kesalahan, terus minta maaf, betul tidak  kawan ?

Mengakui kesalahan seringkali dianggap perbuatan bodoh dan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kehinaan. Pelakunya dianggap tidak punya harga diri lagi, tidak istiqamah (teguh pendirian), dan tidak memiliki prinsip hidup. Pendapat itu amat keliru. Mengakui kekhilafan, kesalahan, dan dosa serta bertekad tidak akan mengulangi lagi merupakan perbuatan yang sangat mulia

sebuah kisah perenungan hati bacalah dan ambil manfaatnya…

Kisah ini dituturkan oleh salah satu murid terdekat Abuya Almaliki. Sebuah kisah yang sarat teladan, cermin dari keagungan pribadi seorang ulama’ besar semisal Abuya Al-Maliki.
Pada suatu hari, Majalah Al-Jami’ah al-Madinah al-Munawaroh, memuat sebuah artikel yang ditulis oleh seorang pakar, DR.Abdul Qodir as-Sindi. dia tinggal dikota Madinah. Dia memiliki pemikiran yang berbeda dengan Abuya al-Maliki.
Perbedaan pemikiran antara dirinya dengan Abuya dia tuangkan dalam artikel tersebut. Namun sayangnya, artikel yang semestinya menyajikan pencerahan pemikiran yang ilmiah tersebut, ternyata berisi kecam, hinaan, penghakiman, dan pendeskriditan terhadap pemikiran pribadi Abuya al-Maliki, dia menelanjangi pemikiran-pemikiran Abuya al-Maliki sebagai propaganda yang mengarh pada berbuatan bid’ah.

baca selengkapnya….

Iklan