Iklan
Beranda

orang miskin dilarang sakit ?

12 Komentar


orang-miskin-dilarang-sakitbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. lihatlah berita berita di televisi Cerita tragis mengenai kemiskinan dan kesehatan yang tidak juga terjangkau masih marak terjadi. Seolah sudah patut disandang oleh orang miskin mengalami kehidupan serba sulit termasuk mengakses kesehatan. “Orang miskin dilarang Sakit ?” benar-benar menjadi kenyataan. Alangkah susahnya mencari rumah sakit murah apalagi gratis ditengah riuh kehidupan bangsa ini. Sementara riuh lain adalah berbagi hasil korupsi biar merata. Ironis bukan? Satu sisi mereka hanya ingin bertahan hidup dari serangan penyakit, sementara pihak lain bertahan untuk mengeruk kekayaan Negara. astagfirullah

Lantas, bagaimana jika orang miskin sakit? Bukankah seharusnya kesehatan menjadi milik publik? Mengapa sekarang ini kesehatan justru menjadi seperti milik privat yang hanya akan didapatkan orang yang mampu membayar?

lihatlah Di jaman yang serba mahal ini, banyak sekali keluarga-keluarga yang dinilai masih berada di bawah garis kemiskinan, hal ini dikarenakan penyebaran penduduk dan lapangan pekerjaan yang tidak merata yang mengakibatkan ketidakseimbangan tingkat perekonomian antara suatu daerah dengan daerah yang lainnya,

lalu yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah ?

Ada apa dengan sistem pelayanan kesehatan di negeri ini? Mengapa citra rumah sakit yang dulu kental akan fungsi sosialnya kini redup, berganti wajah dan tampilan barunya yang lebih berorientasi untuk kepentingan bisnis?

apa benar penolakan terhadap pasien – pasien miskin itu murni karena minimnya peralatan dan penuhnya pasien ? ataukah ada unsur lain dibalik itu ?

apa berani mereka melakukan penolakan kepada keluarga presiden, menteri , anggota dewan, para pejabat dan orang-orang kaya ?

apakah ini bisa disebut diskriminatif ?

sahabatku yang aku sayangi, Sudah sejak lama dirasakan adanya ketimpangan hubungan antara pasien dan penyedia jasa layanan kesehatan. Pasien selalu diposisikan sebagai orang yang paling membutuhkan, sementara rumah sakit cenderung tampil bagai dewa yang akan menentukan nasib sang pasien. Bahkan, di tengah ketidakpahaman pasien tentang sakit dan penyakitnya, tak jarang hak-hak mereka dikebiri oleh pihak rumah sakit.

baca derita menjadi orang miskin selengkapnya….

Iklan

insyaAllah khair

2 Komentar


assalamualaikum

sahabatku yang dirahmati Allah, mohon maaf saya tidak bisa update artikel beberapa hari yang lalu, sudah seminggu lebih terhitung, pondok hatiku ini terbengkalai dengan segudang kesibukanku, ngurusin pindah rumah, mondar-mandir ngurusin administrasi kuliah,pekerjaanku dan terakhir sebuah kecelakaan yang menimpaku, alhamdulillah, maha suci Allah cuma beberapa luka lecet di kedua lutuku, dan kaki kiriku masih bengkak, gara-gara tertimpa motorku, masih sakit untuk berjalan, namun insyaAllah ini khair bagiku, sungguh pembelajran berharga yang harus aku ingat selalu, doakan semoga aku lekas sembuh…terima kasih

sebuah kisah semoga menginspirasimu…

Alkisah, dahulu kala hiduplah seorang raja yang muda serta mempunyai kekuasaan yang luas. Ia hidup bersama penasihatnya. Suatu ketika iapun merasa susah, karena ia bingung apa yang akan dia lakukan. Iapun bercerita kepada penasihatnya. “wahai penasihat aku bingung dengan diriku ini, aku telah menjadi raja, tapi kenapa aku merasa hidupku ini tidak enak, aku meras sepi”. Maka dengan senyum dan bijak sang penasehat menjawab “Wahai raja, lebih baik kau menikah, insyaallah khoir, insyaallah kau tidak merasa sepi”.

baca kisah selengkapnya..

abu nawas; pangeran sakit

5 Komentar


Secara tak terduga Pangeran yang menjadi putra mahkota jatuh sakit. Sudah banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati tapi tak seorang pun mampu menyembuhkannya.

Akhirnya Raja mengadakan sayembara. Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tidak terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga. Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa hari berhasil menyerap ratusan peserta.

Namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekat Abu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota. Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap. Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa. Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macam Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup. Bahkan penyakitnya tidak terlacak.

baca kisah selengkapnya..

%d blogger menyukai ini: