Iklan
Beranda

Bencana Gempa, Indonesia berduka

2 Komentar


indonesia berdukabismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. sudah tidak bisa dipungkiri lagi, Letak geografis Indonesia berada di kawasan rawan bencana, terutama gempa. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera ,Jawa – Nusa Tenggara,  Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

lihatlah berita saat ini, saudara kita di Aceh sedang berduka, gempa 6.xx skala Ricter meluluhlantahkan bangunan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, masyarakat kebingungan. tangis kemana-mana.. ya Allah…

ada apa ini sebenarnya ?

kenapa indonesia  menjadi rawan bencana ?

kenapa indonesia dilanda musibah tiada henti ?

kenapa indonesia terus berduka ?

adakah yang salah pada diri kita ?

kenapa kawan ?

sebuah kisah renungan semoga bisa membuka matahati kita yang dalam.

Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yg lagi bekerja di bawah…

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp.1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja.

Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tsb dan melanjutkan pekerjaannya.

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah “sebentar saja” ke atas.

baca kisah cahaya hati selengkapnya….

Iklan

Bencana dibalut karunia terindah

9 Komentar


Bismilahirahmanirahim

Kawanku yang baik budinya. Indonesia negeri yang kaya raya kekayaan alamnya, namun seribu satu macam musibah yang mendera, tsunami, gempa bumi. Gunung meletus, tanah longsor, banjir,dan lainnya..sehingga banyak orang yang bersedih saat bencana itu mengenainya..

Saya mau Tanya padamu, seandainya engkau ditimpa bencana bagaimana perasaanmu?

Sebuah kisah semoga bisa menjawab pertanyaanku..

Ada seorang kakek bercerita kepadaku(sulaiman bin Muhammad bin Abdullah al ustsain)., katanya padda tahun 1374 H, telah terjadi suatu bencana besar yakni ladang – ladang yang terletak diwilayah barat laut buraidah diserang sekumpulan belalang kecil kecil.

Kata kakek bercerita kepada saya(sulaiman bin Muhammad bin Abdullah al ustsain). selanjutnya;

“setelah kami tahu bakal datangnya bencana tersebut dan bahwa bencana tersebut sedang datang menuju pada lading-ladang kami, maka seluruh warga desa kami berkumpul untuk mengadakan musyawarah, sementara wajah kami Nampak murung dan amat sangat sedih. Diantara kami ada yang mengucapkan istirja’; ada pula yang mengucapkan hauqalah; apa yang masih bisa diharapkan bakal tersisa kalau bencana itu benar-benar datang melanda ladang-ladang kami. Siapapun tak akan membayangkan apakah yang akan bakal menimpa ladangnya yang selama bertahun tahun telah diolah dan disiramsejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari, padahal ladang itu merupakan penghasilan satu-satunya bagi kesejahteraan hidupnya bersama anak istri.

baca kisah selengkanya..

Sabar Di Tengah Bencana

Tinggalkan komentar


bismillahirahmanirahim

kawanku smua yang dirahmati Allah, pasti engkau pernah mengalami kejadian seperti ini;

Ketika kita naik mobil angkutan umum di tengah kemacetan lalu lintas, maka kita dituntut untuk bersabar. Kita tak boleh mencaci si sopir, apalagi membentak-bentak. Ketika kita berdesak-desakkan di kereta api kita juga dituntut sabar. Pada saat itu kita tidak boleh marah, kendati mungkin kaki kita terinjak.

Lagi

%d blogger menyukai ini: