Beranda

Ibnu Taimiyah, Faqih yang tersiksa

Tinggalkan komentar


Ibnu_taimiyahbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, beberapa hari ini ada seorang sahabat yang bertanya kepada saya tentang pengajian yang dipimpin seorang ustadz jebolan salah satu universitas di madinah, setiap pengajian merujuknya pada syech syech itu saja yang kita tahu persis merujuk pada pemahaman syaih nya wahabi, sehingga bisa dipastikan ujungnya akan membahas masalah syirik, kafir, bid’ah dan yang melingkupi itu semua, terlepas dari itu semua jika ditarik sampai ujung maka akan ketemu syech nya (ulamanya) yang mengisnspirasi/panutan syech -syech wahabi yang disebutkan sahabatku itu maka kiranya dialog dibawah ini sangat dianjurkan kamu baca.

tulisan dibawah ini saya ambil dari tulisan gus imad syauqie di beranda facebooknya, kiranya dapat menjadi manfaat maka bacalah dengan penuh penghayatan.

DIALOG IMAM IBNU TAIMIYYAH AL-HARRONI DENGAN IMAM IBNU ATHOILLAH AS-SAKANDARY DI MASJID AL-AZHAR, MESIR.

Tulisan ini saya sadur dari majalah Cahaya Sufi, edisi 81, terbitan tahun 2012, pimpinan DR. KH. Muhammad Luqman Hakim MA, beliau adalah murid thoriqoh dari Al-Mursyid Al-Kamil Mukammil Al-Arifubillah Hadrotus Syaikh Abdul Djalil Mustaqiem, pengasuh Pon-Pes PETA ( PEsulukan Tarekat Agung, TulungAgung, Jawa Timur ) yang telah diterjemahkan oleh tim penerbit dari kitab ” ابن تيمية، الفقيه المعذب ” ( Ibnu Taimiyah, Faqih yang tersiksa ) karya penulis Mesir, Syaikh Abdurrohman Asy-Syarqowi.

baca selengkapnya disini….

Jangan tertipu dengan “LABEL”

Tinggalkan komentar


pro-vs-anti-bioticsbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. ternyata sadar maupun tidak sadar sering kali  kita mudah sekali dibodoh-bodohin orang dengan sebuah LABEL tertentu, bener kata gusmus di twittwer. “Sering kita TIDAK (bisa) MEMBEDAKAN sesuatu yg BERBEDA dan tidak jarang kita MEMBEDAKAN sesuatu yang (sebenarnya) SAMA”

kenapa bisa begitu ? adakah yang tahu..?

Kita hidup dalam kepungan lembaga-lembaga dan label-label. Lembaga-lembaga merantai kita dalam kotak-kotak dan prosedur-prosedur, sedangkan label-label laksana kaca mata kuda yang menjepit kedua pelipis kita hingga gepeng.

Ketika Ulil (Abshar Abdalla) hendak membentuk JIL (Jaringan Islam Liberal), Gus Dur menasehati,

Pakai label itu lebih banyak rugi ketimbang untung”, kata beliau, “label cenderung mengundang serangan”.

Ulil tetap membentuk JIL. Dan nyaris serta-merta ia menjadi sasaran tembak bagi siapa saja yang mencurigai Yahudi, Israel dan Amerika. Tak seorang pun cukup sabar untuk memperhatikan gagasan-gagasan Ulil beserta argumentasi dan khazanah pengetahuan yang diusungnya. Orang hanya bernafsu mengincar label JIL yang ditempel di jidatnya!

Pada gilirannya, semua yang anti-Yahudi jadi anti-JIL. Kemudian yang tidak setuju dengan pendapat-pendapat Ulil jadi anti-JIL. Bahkan di kalangan NU, “tanah tumpah-darah”-nya Ulil sendiri, berkembang pula gairah anti-JIL, gara-gara Ulil meneriakkan: “Semua agama sama”!

baca cahaya hati selengkapnya….

%d blogger menyukai ini: