Iklan
Beranda

KH Marzuqi Mustamar : Klarifikasi Amalan Umat

Tinggalkan komentar


kh marzuqi mustamarBismillahirahmanirrahim

Sahabatku yang dirahmati Allah. minggu 20 Maret 2016 kemaren masjid Roudhotul Jannah kita kedatangan ulama kharismatik asal jawa timur yaitu KH MARZUQI MUSTAMAR, Seorang Pakar ASWAJA, Hujjatul NU, Ketua Tanfidziah PCNU malang, Anggota Fatwa MUI Malang, dosen pasca sarjana UIN Malang, Pengasuh Ponpes “Sabilul Rosyad” Gasek, Karang Besuki, Sukun, Malang.

tidak seperti mauidhoh hasanah pada umumnya, Ceramahnya kemaren berbeda, Pak Kyai malah membawa kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Kitab Fiqih Muhammadiah, Tarjih Muhammadiah dan buku penunjang lainnya. pak Kyai hendak mengklarifikasi amalan umat yang sering diributkan masyarakat, terlebih masyarakat awam, tentang amaliyah-amaliyah yang oleh kelompok lain (Salafi wahabi dan sejenisnya) sering mengangapnya sesat, bid’ah dan tidak ada contohnya. dari pengajian kemaren juga diikuti sesi tanya jawab dari jamaah yang hadir pada acara yang mulia itu berikut ini beberapa kesimpulan hasil dari yang telah diuraikan pak Kyai juga hasil menjawab pertanyaan dari jamaah yang hadir waktu, saya paparkan dengan sebenarnya sekaligus penambahan Referensi dari buku-buku yang telah diterbitkan tim Aswaja Center. Adapun beberapa yang dibahas tentang masalah niat, qunut subuh, dzikir dengan suara keras, Sholawat Nariah, Tahlilan dan sebagainya, menghadiahkan fatehah. Semoga pembahasan kesimpulan ini bernilai manfaat untuk semua.

baca selengkapnya disini….

Iklan

Tahlilan, Maulidan, Yasinan Dianggap “Bid’ah” Kenapa, Alasanya, Dalilnya ?

109 Komentar


bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, banyak seakali diantara saudara kita yang membid’ahkan acara tahlilan dan yasinan, mempersalahkan acara tahlilan hari ke 7, 40, 100 dan 1000. padahal tahlilan dan yasinan adalah strategi dakwah para wali songo yang begitu paham alquran dan hadist sehingga menuangkan amalan-amalan yang baik dalam wadah yang disebut tahlilan, walisongo orang yang sangat berjasa besar dalam penyebaran islam di indonesia, dakwah mereka melalui kultural dan budaya, mendekati dari hati ke hati sehingga orang berbondong-bondong masuk islam karena keihlasan hatinya bukan sebuah keterpaksaan. untuk itu yang masih mengganggap itu bid’ah sesat dan akan masuk neraka, alangkah baiknya kita kaji dimana sesatnya…? dalilnya? bukan sekedar menafsirkan dan menyomot dalil yang gak jelas. ingat ulama itu pewaris para nabi, ilmu para walisanga jauh lebih tinggi daripada ilmu kita mereka semua hafal alqur’an dan jasa mereka sangat besar , kita pun gak mampu menyamainya bukan? lantas apakah kita serta dengan angkuhnya membid’ahkan apa yang mereka ajarkan? sungguh sombongnya kita, jika demikian.

mari kita kaji bersama, mari buka mata dan hati kita,…

Jangan cuma asal ikut sana, ikut sini, tanpa tahu dari mana asalanya, sepeti mengikuti gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia yg berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, ingat versi mereka lho, bukan mengikuti Rosulullah saw maupun maghdab 4, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi. aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

perlu diingat saja. AL Hafidh adalah Ahli hadits yg hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan Al Hujjah adalah yg hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, sebagaimana Imam Nawawi yg telah melebih derajat Al hujjah sehingga digelari Hujjatul Islam, demikian pula Hujjatul Islam Imam Ghazali, demikian pula Hujjatul Islam Imam Ibn Hajar AL Asqalaniy dan banyak lagi,

dan Imam Ahmad bin Hanbal (hambali) ia hafal 1 juta hadits berikut sanad dan hukum matannya, dan ia adalah Murid Imam Syafi’i, dan ia berkata : “tak kulihat seorangpun lebih menjaga hadits seperti Imam Syafii”
wahabi itu tak satupun yg sampai jadi ahli hadits dan keilmuan mereka tak dipertimbangkan dari kalangan ahli hadist dan ilmu lainya.

mereka juga tak punya sanad, berkata para ahli hadits: “Tiada ilmu tanpa sanad”

kita Ahlussunnah waljamaah tak mau ilmu yg tak ada sanadnya, kita bicara syariah kita punya sanad, kita bicara tauhid kita punya sanad, kita bicara hadits kita punya sanad kepada para ahli hadits, kita punya sanad kepada Imam Bukhari, kita punya sanad kepada Kutubussittah, kita bicara fiqih madzhab kita punya sanad kepada Imam Imam Madzhab.

mereka wahabi itu tak punya sanad, hanya nukil nukil dari buku, lalu mengaku sebagai ahli hadits, padahal dalam pendapat para ahli hadits tidak diterima ucapan nukil nukil, mesti ada sanad periwayatnya, menurut para ahli hadits tak bisa kita shalat lihat dari buku, tapi mesti : “aku rukuk melihat si fulan seperti ini ruku’nya, dan aku tahu dia orang terpercaya, aku tahu dia shalih, aku tahu dia berilmu, aku tahu dia tsiqah, aqil, baligh, dan rasyiid (bisa dipercaya untuk diikuti), dan aku tahu bahwa dia itu ruku’nya mengikuti gurunya, si fulan, yg juga orang mulia, dan gurunya itu rukuk mengikuti gurunya lagi yaitu…., demikian hingga Rasulullah saw.

dengan cara ini baru ruku kita diterima, kalau tak punya riwayat maka dhoif, omongannya tak didengar, fatwanya tertolak, dan ucapannya tak bisa dijadikan rujukan fatwa,

inilah keadaan kita ahlussunnah waljamaah, kita lihat guru kita, bukan nukil dari buku, demikian dalam pelbagai ibadah kita punya guru, berbeda dengan mereka, tak punya guru, hanya nukil nukil dari buku lalu berfatwa,

lalu yg lucu, mereka mengaku merekalah Madzhab ahlul hadits, ini seperti orang yg membuka kursus menjahit padahal ia sendiri tak tahu menjahit itu apa.

maka berhati-hatilah kawan atas dampak ajaran wahabi yangt berada diindonesia.. yang selalu membidahkan segala aspek masalah… mari kita kaji dulu bersama

sebuah kisah menarik bacalah dengan seksama……. semoga kisah ini membuka kekakuan hati kita semua,.

Disebuah desa di daerah Banyuwangi, terdapat seorang Kyai yang cukup disegani dan memiliki lembaga pendidikan dengan jumlah santri yang cukup banyak, sebut saja Kyai Fulan. Kyai Fulan, tampaknya kurang begitu puas dengan ilmu yang diperoleh dari berbagai pondok pesantren yang pernah ia singgahi waktu muda dulu. Dia mempunyai seorang putra yang ia gadang-gadang menjadi penggantinya kelak jika ia sudah menghadap Sang Pencipta.

Sebagai calon pengganti si Anak -sebut saja Gus Zaid– ia ‘titipkan’ pada lembaga-lembaga pendidikan agama yang dibilang favorit di negeri ini. Dikatakan favorit, karena lembaga ini dikelola dengan manajemen yang rapi, dan moderen, juga ditangani oleh guru-guru yang ‘alim’ lulusan universitas-universitas di Arab Saudi, negara tempat Islam dilahirkan.

baca penjelasan selengkapnya…

%d blogger menyukai ini: